Kamis, 13 Agustus 2009

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah ‘azimat’ Nabi tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.

Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.

Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”

Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”

Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.

Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”

“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”

“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”

“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”

Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”

“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”

“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”

“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”

“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

sumber: Hidayatullah.com





Minggu, 02 Agustus 2009

Sejarah merupakan suatu peristiwa masa lalu yang tidak akan pernah terhapuskan adanya, setiap zaman memiliki sejarahnya masing-masing terlepas itu kemajuan atau justru degradation (kemunduran).
Sejarah mestinya menjadi cermin bagi kita yang masih menjalani alur cerita kehidupan semu ini, kemajuan dan kemunduran suatu zaman atau lebih tepatnya lagi suatu komunitas tergantung bagaimana dia memandang sejarah atau justru malah diabaikannya maka hal ini akan menyebabkan sebuah kehancuran.
Melirik islam di zaman Rasulullah begitu gemilangnya dan jayanya, padahal Islam pada saat itu hanya merupakan komunitas minoritas namun tidak termarginalkan.
Tantangan Islam di masa Rasulullah sangatlah luar biasa beratnya, bagaimana usaha Nabi Muhammad dalam menyebarkan dakwahnya? berbagai macam rintangan beliau hadapi hatta ancaman nyawa sekalipun, hingga akhirnya islam pun muncul kepermukaan dan menjadi sebuah idieologi.
Disini penulis tidaklah bermaksud untuk menjelaskan sejarah islam masa lalu akan tetapi penulis hanya ingin merenungkan ada apa di balik jayanya islam ketika itu.
Tentunya kalau kita mengkaji dan menela'ah sejarah islam ataupun siroh nabawiyyah disana kita akan menemukan kunci atau prinsip kejayaan islam pada masa itu.
Melihat islam masa kini dari segi kuantitas memanglah unggul dibanding penganut-pengatut agama lainnya namun dari segi kualitas jelas kita semua menyadari dan tidak perlu memungkiri bahwa islam saat ini jauh tertinggal dari peradaban-peradaban idieologi yang menjadi rivalnya, baik dari segi sains, teknologi, dan ilmu pengetahuan lainnya.
Tidaklah wajar jika kita menyalahkan atau kalau tidak mengkambing hitamkan islam sebagai biangkeladi dari kemunduran ini karena dengan bukti sejarah yang ada bahwa islam pada masa lalu pernah jaya dan ilmuan-ilmuan mutakhir lahir dari peradabaan islam.
lalu sebenarnya ada apa dengan islam saat ini?
Bukanlah ajaran islamnya yang mesti kita soroti tapi para pemeluknya yang mesti kita kaji, kaum muslimin saat ini kebanyakan mereka memeluk islam hanya karena merupakan keturunan saja bukan hasil pengkajian terhadap agama itu sendiri, sehinggi efek yang ditimbulkanpun hanya berupa simbol-simbol belaka tanpa ada esensi, penulis tidak menyalahkan islam keturunan hanya yang menjadi sebuah penyesalan keislamannya tidak ditindaklnjuti dengan memahami islam itu sendiri sehingga keislamaannya itu hambar.




Sabtu, 01 Agustus 2009

Apakah yang kau segerakan ?


Rekan-rekan Super Members milist/web MTSuperClub, dan
Rekan-rekan Super Fans di Facebook Mario Teguh,
Tanpa terasa satu minggu sudah berlalu lagi, di tahun yang sudah semakin matang ini.
Mudah-mudahan Anda semua sedang berada dalam kesehatan dan kegembiraan yang super dalam memastikan yang Anda lakukan hari ini berpengaruh baik bagi masa depan Anda dan keluarga tercinta.
Selamat datang dan bergabung saya sampaikan kepada rekan-rekan Super Members dan Super Fans yang baru menjadi anggota keluarga MTSuperClub yang ramah ini. Semoga kebersamaan kita menjadi penyegera bagi tercapainya impian-impian hati kita.
Setiap pribadi dari kita diciptakan sebagai jiwa yang tergesa-gesa.
Tetapi, mengapakah ada di antara kita yang kesegeraannya adalah meragu, menunda, dan menghindari yang penting?
Di pagi yang indah ini, yang keindahannya sangat ditentukan oleh kesediaan kita untuk melihat yang indah, sampaikanlah pengingat kepada diri dan jiwa yang belum berhasil menjadikan dirinya bersegera bagi yang baik baginya, dengan kalimat-kalimat sederhana seperti dalam Weekend Note ini.
…….
MT Weekend Note
APAKAH YANG KAU SEGERAKAN?
Mario Teguh
…….

Sahabatku terkasih,
Ketahuilah bahwa aku sering lebih mempercayai kualitas-kualitas yang ada pada diri mu, daripada engkau sendiri dalam mempercayai yang seharusnya engkau percayai itu.
Mungkin karena aku tidak sepenuhnya hidup dalam hidupmu, aku hanya mencatat yang kau katakan saat engkau melambung ke langit dalam kebanggaan dari rencana-rencanamu, dan tidak turut merasa tak berdaya dalam malam-malam mu yang tanpa tidur – saat engkau menjadi tuan rumah bagi semua keraguan hati mu.
Engkau dilahirkan dengan semua kemungkinan yang sama untuk menjadi pribadi yang sejahtera, berbahagia, dan cemerlang.
Engkau dibesarkan dengan tujuan untuk menjadi lebih kuat sebagai pelaksana dari semua tindakan yang dibutuhkan untuk menjadikan dirimu pribadi yang mandiri.
Engkau diberikan ketergesaan sebagai nama dari gerakan utama dari hatimu.
Engkau dilahirkan di antara banyak orang yang menasehatkan dan meneladankan yang baik, dan yang membuktikan kebaikan dari kebaikan.
Di antara mereka, ada juga yang mencontohkan ketidak-setiaan kepada yang baik, agar engkau melihat ketidak-baikan yang menyiksa, dan agar engkau percaya bahwa tempat mu hanya ada di dalam kebaikan.

Tetapi, sahabat hatiku,
Camkanlah ini, bahwa:
Semua kehebatan mu dalam bermimpi, kelengkapan mu dalam berencana, dan kelantangan mu dalam berjanji; tidak lebih kuat daripada kecenderungan mu untuk menunda.
Ingat-ingatlah lagi.
Bukankah telah banyak malam-malam yang bermata lebar terjaga dalam impian-impian sadar mengenai hal-hal besar yang ingin kau capai?
Bukankah telah sering engkau berbaring gelisah menanti pagi yang tak kunjung merebak, karena engkau tak sabar untuk segera melakukan yang kau yakini malam itu sebagai jalan keluar dari kesulitan mu dan jalan masuk ke kehidupan impian mu?
Tetapi,
Untuk kemudian kau buktikan bahwa ketergesaan mu untuk bertindak – tertahan oleh perasaan kecil yang merayu, yang berkata dalam hatimu bahwa nanti adalah saat yang tepat untuk melakukannya, dan bahwa sekarang bukanlah waktunya.
Lawan dari ketergesaan untuk berhasil bukanlah kelambanan.
Lawan dari ketergesaan untuk berhasil adalah ketergesaan untuk menunda yang memberhasilkan.

Sahabatku yang hatinya baik,
Sadarilah bahwa sebenarnya Tuhan hanya menyertakan kekuatan bersama kelahiran mu. Engkau sama sekali tidak dibekali kelemahan.
Lunak tulang-belulang mu saat kelahiran mu adalah kekuatan yang mengharuskan kehati-hatian pada perilaku orang-tua mu.
Kecil tubuh mu adalah kekuatan yang mengharuskan perlindungan dari orang-orang yang lebih besar.
Lucunya rancangan wajah dan anggota tubuh mu adalah kekuatan yang mewabahkan perasaan gemas untuk menjadikan mu harta keluarga.
Bisu dan gagu dari lidah mu sebagai bayi adalah kekuatan yang mengharuskan semua yang dewasa untuk berbicara dan bertingkah dengan semua cara yang belum mereka coba – agar engkau mengerti atau setidaknya sedikit tersenyum.

Sahabat jiwa ku,
Sebetulnya engkau dilahirkan sangat hebat.
Dan aku tak bisa membayangkan kekuatan yang bisa kau kembangkan, kebesaran yang bisa kau bangun, dan ketinggian yang bisa kau capai – jika engkau betul-betul menyegerakan penggunaan dari semua kekuatan diri mu.
Tetapi apa yang kemudian terjadi pada perhitungan mu, sama sekali sulit aku mengerti.
Engkau menggunakan ketidak-sabaran mu, sebagai kekuatan untuk tidak bersabar terhadap yang baik.
Engkau menggunakan kekuatan untuk bersabar, sebagai kekuatan untuk pasrah dan menerima yang tidak membesarkan mu.
Engkau menggunakan ketergesaan mu, sebagai kekuatan untuk memasukkan mu ke dalam masalah.
Dan yang lebih sering,
Engkau menggunakan ketergesaan mu, sebagai kekuatan untuk menyegerakan penundaan dan mendahulukan yang tidak bernilai.

Sahabat ku yang sedang dinantikan oleh kehidupan,
Janganlah engkau membantah yang ini, bahwa
Nilai dari yang kau lakukan, menentukan nilai dari yang kau capai.
Maka pertanyaan ku kepada mu, adalah
Apakah yang sedang kau lakukan itu bernilai?
Jika tidak, mengapakah engkau masih bertahan dalam melakukannya?
Apakah yang kau segerakan adalah yang akan menyegerakan kebahagiaan mu?
Jika tidak, mengapakah engkau mengeluhkan kelambatan hidup mu?
Apakah yang kau pertahankan saat ini adalah kesejahteraan yang harus kau pelihara?
Jika engkau tidak sejahtera, mengapakah engkau mempertahankan tempat dan cara-cara yang tidak menyejahterakan mu?
Apakah pendapat yang kau bela mati-matian itu adalah mesin penghasil kehebatan hidup mu?
Jika engkau harus berbicara tinggi untuk menutupi kerendahan kebanggaan mu terhadap dirimu sendiri, mengapakah engkau mempertahankan pendapat yang tidak menghebatkan mu?

Sekarang,
Janganlah engkau menjauh dari ku.
Ke sinilah engkau.
Dekat-dekatlah sini.
Janganlah kau patuhi kebiasaan mu yang selama ini menjauhkan mu dari nasehat-nasehat baik.
Jika engkau merasa gelisah karena mendengar yang baik, engkau harus mengakui bahwa yang tidak baik telah lebih kuat menjadi tuan rumah di hati baik mu.

Sahabat ku yang aku kasihi,
Ketahuilah bahwa engkau adalah kekasih Tuhan.
Tuhan sangat mencintai mu.
Bukankah sebetulnya hati mu mengetahui hal ini?
Tetapi mungkin kesulitan dalam hidup mu telah mendorong mu untuk mempertanyakan kasih sayang Tuhan.
Meskipun sebetulnya engkau tahu, bahwa engkau adalah pemeran utama dalam penyulitan hidup mu sendiri.
Engkau memperhatikan-Nya atau tidak, Beliau tetap memperhatikan mu.
Engkau meminta atau tidak, Beliau tetap memberi mu.
Tetapi ini yang harus kau ingat, bahwa
Jika engkau ingin Tuhan melebihkan perhatian-Nya kepada mu, lebihkanlah perhatian mu kepada-Nya.
Jika engkau ingin Tuhan melebihkan pemberian-Nya kepada mu, lebihkanlah alasan bagi kelebihan penerimaan mu.
Dan,
Jika engkau ingin Tuhan melayani mu, layanilah sesama mu.

Engkau yang hatinya baik,
Jadikanlah ini pegangan mu,
karena sesama adalah semua ciptaan Tuhan, maka:
Melayani sesama adalah satu-satunya cara melayani Tuhan.
Maka sebelum aku meninggalkan mu untuk menyegerakan semua kecintaan ku,
agar engkau menyegerakan kebaikan yang telah merindukan keceriaan mu,
ini yang aku pesankan kepada mu untuk kau lakukan hari ini:
Bersegeralah untuk memperbarui perasaan mu dengan kegembiraan.
Bersegeralah untuk mentenagai gerakan mu dengan kecepatan yang terukur.
Bersegeralah untuk merupawankan wajah mu dengan senyum.
Bersegeralah untuk memperindah tutur kata mu dengan keramahan.
Bersegeralah untuk menganggunkan perilaku mu dengan kesantunan.
Dan,
Bersegeralah untuk mengutuhkan semua yang kau lakukan dengan doa.
Lalu,
dalam damai hati mu,
perhatikan apa yang terjadi ...
Sesungguhnya yang segera menjadi kualitas hidup mu, adalah yang kau segerakan.
Maka pertanyaan ku di akhir minggu ini untuk mu, adalah:
Apakah yang kau segerakan?
…….

Rekan-rekan Super Members milist MTSuperClub,
Dan rekan-rekan Super Fans di Facebook Mario Teguh,
Mudah-mudahan catatan akhir minggu yang sederhana ini dapat menjadi pendamping Anda dalam memuliakan diri Anda den keluarga tercinta di akhir minggu ini.
Sampai kita bertemu lagi.
Terima kasih atas kemuliaan untuk melayani Anda.
Salam super,

Kamis, 30 Juli 2009

Gaya Hidup Islami Dan Gaya Hidup Jahili

Oleh: Surahmat (Yogyakarta)

Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini. Yang pertama ialah kebaikan (al-khair), dan yang kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja masing-masing orang mempunyai pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang mendasari munculnya bermacam ragam gaya hidup manusia.

Dalam pandangan Islam gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili.

Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang mutlak dan kuat, yaitu Tauhid. Inilah gaya hidup orang yang beriman. Adapun gaya hidup jahili, landasannya bersifat relatif dan rapuh, yaitu syirik. Inilah gaya hidup orang kafir.

Setiap Muslim sudah menjadi keharusan baginya untuk memilih gaya hidup Islami dalam menjalani hidup dan kehidupan-nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:
Artinya: Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram baginya. Hanya saja dalam kenyataan justru membuat kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini persis seperti yang pernah disinyalir oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam . Beliau bersabda:

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah z, shahih).

“Sesungguhnya kamu akan mengikuti jejak orang-orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan kalau mereka masuk ke lubang biawak, niscaya kamu mengikuti mereka”. Kami bertanya,”Ya Rasulullah, orang Yahudi dan Nasrani?” Jawab Nabi, “Siapa lagi?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri z, shahih).

Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan kepribadian Islamnya karena jiwa mere-ka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku sebagai orang Islam kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:


Artinya: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan).

Menurut hadits tersebut orang yang gaya hidupnya menyerupai umat yang lain (tasyabbuh) hakikatnya telah menjadi seperti mereka. Lalu dalam hal apakah tasyabbuh itu?
Al-Munawi berkata: “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka”.
Tentu saja lingkup pembicaraan tentang tasyabbuh itu masih cukup luas, namun dalam kesempatan yang singkat ini, tetap mewajibkan diri kita agar memprihatinkan kondisi umat kita saat ini.


Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah pakaian Muslimah. Mungkin kita boleh bersenang hati bila melihat berbagai mode busana Muslimah telah mulai bersaing dengan mode-mode busana jahiliyah. Hanya saja masih sering kita menjumpai busana Muslimah yang tidak memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at. Busana-busana itu masih mengadopsi mode ekspose aurat sebagai ciri pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah busana wanita kita pada umumnya, yang mayoritas beragama Islam ini, nyaris tak kita jumpai mode pakaian umum tersebut yang tidak mengekspose aurat. Kalau tidak memper-tontonkan aurat karena terbuka, maka ekspose itu dengan menonjolkan keketatan pakaian. Bahkan malah ada yang lengkap dengan dua bentuk itu; mempertontonkan dan menonjolkan aurat. Belum lagi kejahilan ini secara otomatis dilengkapi dengan tingkah laku yang -kata mereka- selaras dengan mode pakaian itu. Na’udzubillahi min dzalik.

marilah kita takut pada ancaman akhirat dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:

“Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah z, shahih).

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili
.
merenungi dan mentaati sebuah firman Allah yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At-Tahrim: 6).






free download ringtone mp3

Senin, 27 Juli 2009

Fenomena Waktu

Perjalan hidup setiap insan akan selalu terekam oleh pita waku, semenjak manusia pertama lahir maka waktu hadir untuk mengiringi perjalanan dan kisah hidupnya. Keberadaan waktu merupakan sesuatu yang mutlak bagi berlangsungnya kehidupan. Allah swt menciptakan waktu sebagai modal investasi untuk kebakan dan kebahagiaan umat manusia. keberadaan waktu bagi setiap makhluk ibarat api di ujung sumbu batangan lilin yang siap membakar habis batangan lilin tersebut. Umur atau usia manusia sedikit demi sedikit akan terkikis oleh waktu, sehingga jatah waktu yang diberikan kepadanya akan habis (tiba di ujung kematian).

Begitu banyak manusia yang tidak menyadari fenomena semua ini, seolah mereka menyangka waktu yang terus berputar akan tetap mengiringi kehidupannya, sehingga dalam menjalani kehidupanya mereka terlampau bebas dan tidak menghiraukan norma-norma dan aturan-aturan yang berlaku. Padahal waktu merupakan barang mahal, investasi berharga yang akan menentukan keberadaanya di kemudian hari, orang yang menanam benih jagung maka di kemudian hari dia akan memanen jagung tersebut, demikianlah miniatur dari deskripsi keberadaan waktu, mereka yang hari ini mengerjakan sesuatu yang biasa-biasa maka di kemudian hari dia pun akan menjadi manusia yang biasa-biasa, mereka yang hari ini mengerjakan sesuatu yang luar biasa dan bermanfaat maka di kemudian hari dia pun akan menjadi manusia yang lauar biasa dan akan menjadi manusia yang bermanfaat. oleh karena itu Allah swt memberikan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya melalui firman-Nya yang diwahyukan kepada utusan-Nya :

1. demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Ashr 1-3)


Dengan firman ini kita diingatkan oleh Allah swt betapa pentingnya sebuah waktu, dalam ayat tersebut sangatlah jelas bahwa manusia itu akan terpecah menjadi dua golongan dengan keberadaan waktu, golongan yang akan mendapatkan anugrah bagi yang memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan golongan yang akan mendapatkan kerugian bagi yang menyia-nyiakan waktu.


Dengan sedikit renungan tersebut marilah kita bentuk jati diri kita dengan selalu menghargai keberadaan waktu, "hargamu hanya sebanding dengan penghargaanmu terhadap waktu" demikianlah kata-kata bijak Bapak Mario Teguh.


Laluilah hari-hari kita dengan mengerjakan sesuatu yang terbaik, terbaik untuk diri kita sendiri, terbaik untuk semua orang, terbaik untuk alam, dan tentunya amalan terbaik bagi sang Khalik yang mesti kita persembahkan.

wallahu'alam........





Download Cara Cerdas Menggunakan Waktu

Minggu, 26 Juli 2009

Harga mu hanya sebanding dengan penghargaan mu terhadap waktu.

Teman-teman forum curhat, kali ini saya cantumkan sebuah artikel seorang motivator ulung yaitu bapak super kita; Bapak Mario Tegush Selamat membaca dan merenungkan.

Rekan-rekan Super Members yang baik hatinya,
Berikut adalah catatan sederhana yang saya susunkan untuk rekan-rekan di akhir minggu ini.
…….

MT WEEKEND NOTE
Harga Kita
Hanya Sebanding Dengan
Penghargaan Kita
Terhadap Waktu
MARIO TEGUH
…….
Dua bulan pertama dari tahun yang baru saja kita rayakan kebaruannya ini, telah berlalu, dan dalam dua minggu kita akan melalui seperempat dari satu tahun yang akan menjadikan semua orang menua satu tahun, tetapi yang belum tentu menjadi lebih mampu daripada diri mereka di tanggal yang sama tahun lalu.
Kelihatannya, waktu memilah-milah orang berdasarkan kualitas sikapnya dalam menggunakan waktu.
Yang bersikap baik dalam menggunakan waktu, akan hidup dengan baik. Yang menyepelekan waktu, akan hidup memprotes penyepelean dari orang lain.
Saya tidak ingin mengundang siapapun untuk merasa khawatir dan terusik dengan ketepatan dari penggunaan waktu dalam hidupnya; tetapi jika ada orang yang tidak khawatir dengan penuaan dirinya yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan kekuatan kehidupannya, undangan saja tidak cukup.
Setiap pribadi yang melemahkan kehidupannya dengan cara melemahkan upayanya di dalam rentang waktu, telah sebetulnya dibentak keras oleh kehidupan.
Tetapi kehidupan, tampil bisu bagi orang yang tidak menghormati waktu; karena kekasaran bicara dari kehidupannya tertutupi oleh lantangnya keluhan dan protesnya sendiri tentang ketidak-adilan kehidupan.
Dan kepada dia yang hatinya gelisah karena menyadari penuaan dirinya yang hanya menghasilkan pelemahan kehidupan …, ini yang bisa Anda sampaikan kepadanya:

…….
Saudaraku,
Buah hati dari ibu mu yang sahabat ibu ku,
Yang telah khusuk mendoakan mu dan mendoakan ku,
Bahkan jauh sebelum hari kelahiran mu dan kelahiran ku,
Sadarilah bahwa,
Kehidupan ini sudah besar, engkau tidak akan bisa membesarkannya lagi.
Sehingga sebetulnya engkau tumbuh dari ukuran-ukuran kecil mu untuk menjadi pribadi yang pantas bagi kehidupan yang besar.
Dan yang ini adalah pengertian yang bila kau kuasai, engkau akan menguasai kehidupan, bahwa,
Waktu adalah kesempatan yang pasti menumbuhkan sesuatu.
Mungkin kalimat ku itu terlalu kecil dan sederhana jika kau bandingkan dengan pembiasan orang lain kepadamu untuk mendengar kalimat-kalimat besar yang panjang dan berbunga rampai, tetapi yang berbuah kecil-kecil dan sedikit.
Aku ulangi ya?
Waktu adalah kesempatan yang pasti menumbuhkan sesuatu.
Maka janganlah ada sedikit keraguan di hatimu, bahwa
Demi waktu,
Jika engkau tidak bersikap, berpikir, dan berlaku yang menumbuhkan kekuatan, engkau pasti menumbuhkan kelemahan. Dan yang dilemahkan adalah kehidupanmu.
Rasa enggan adalah kekuatan yang sangat besar, baik untuk mencapai keberhasilan atau menyebabkan kegagalan.
Maka engganlah terlibat dalam hal-hal yang tidak menghasilkan.
Dan bersegeralah dengan hal-hal yang menghasilkan, walau sekecil apapun.
Demi waktu,
Jika bukan kebaikan yang mewarnai hati, pikiran, dan gerakan-gerakan tubuh mu, pasti bukan kebaikan yang tumbuh subur dalam hari-hari mu. Dan yang diburukkan adalah kehidupanmu.
Maka bersegeralah menambahkan kebaikan dalam setiap langkah keseharian mu, agar keajaiban yang menata perjalanan hidupmu memindahkan mu ke jalan-jalan menuju taman-taman keindahan hidupmu.
Demi waktu,
Jika bukan kasih sayang dan keindahan yang menjadi warna hati, wajah, dan cara-cara mu, pasti bukan keindahan yang kau lihat dan rasakan di dunia ini. Dan yang dikejamkan adalah kehidupanmu.
Engkau adalah pena yang menuliskan cerita kehidupanmu sendiri.
Jika cerita yang kau pilih berisi kasih sayang dan keindahan, maka tangan yang menggunakan mu adalah tangan Tuhan.
Sahabat pengisi hatiku,
Yang menjadi tujuan dari semua kerja keras ku,
Khidmat aku berharap bahwa engkau tidak mengijinkan keraguan mengganggu yang telah kau mengerti sebagai yang baik bagi mu. Karena jika engkau meragukan kebaikan, engkau memastikan keraguan sebagai penghalang kemuliaan mu.
Perhatikanlah ini,
Jika engkau bersumpah, engkau memulainya dengan “Demi Tuhan …”
Dan karena Tuhan serius dalam niat-Nya untuk memuliakan mu, Beliau memulai dengan “Demi masa …”
Dengan pengertian ini, mudah-mudahan pintu hatimu terbuka lebar dan me-raksasa-kan balai keindahan yang menjadi ruang tertatanya semua kejadian dalam hidupmu.
Dengan pengertian ini, mudah-mudahan bibir mu bergetar dengan pujian dan pujaan kepada Tuhan yang menjadi tujuan kehidupan mu, dan hati mu bersujud dalam penyerahan yang menyeluruh kepada Yang Maha Memelihara mu.
Engkau adalah kekasih Tuhan, dan tidak ada yang diinginkan-Nya kecuali memuliakan mu.
Maka, jika besar harapan mu untuk menjadi pribadi yang berharga, hargailah waktu.
Dan tetapkanlah ini sebagai hukum bagi mu, bahwa
Harga mu hanya sebanding dengan penghargaan mu terhadap waktu.

…….

Rekan-rekan Super Members yang terkasih,
Mudah-mudahan Weekend Note ini bisa menyumbangkan sedikit pertimbangan penguat bagi pencapaian kehebatan pribadi kita bersama.
Akhir minggu ini harus kita masuki dengan kesungguhan untuk menjadikan setiap jiwa yang ada dalam hidup kita merasa bersyukur dia berada dalam persahabatan dan kekeluargaan bersama kita.
Kembali dan temuilah anggota keluarga Anda sebagai pribadi yang mendahului dan menjadi contoh bagi perilaku berkasih sayang yang kemampuan besarnya sudah Anda miliki.
Sampai kita bertemu lagi nanti.
Terima kasih dan salam super,

Sabtu, 25 Juli 2009

Tafakur Diri


Hidup di dunia hanyalah sementara, tak ada yang abadi di hadapan kita semuanya semu...termasuk kesenangan yang kita rasakan saat ini, esok hari, hari ini, satu jam kedepan atau bahkan satu detik dari sekarang mugkin kebahagiaan itu akan berubah menjadi kekhawatiran....namun terkadang kita selalu terjebak dengan keindahan2 yang selalu menjadi harapan kita padahal semuanya semu....keabadian adalah sesuatu yang mesti kita cari dan harapkan dan alangkah lengkapnya jika kebahagiaan yang kita cari kita sandarkan pada keabadian...inilah yang kebanyakan orang lupakan.... dunia memanglah semu semua serba sesaat tapi disamping itu dunia merupkan aset yang akan menentukan keabadian kita nanti....satu hal yang akan mengabadikan kebahagiaan kita adalah amal terbaik yang kita persembahkan baik kepada sang ilahi atau pun sesama....keseimbangan dalam hidup merupakan suatu hal yang mesti...berat sebelah merpakan bentuk ketidak adilan...manusia dan alam yang kita diami merupakan fasilitas hidup yang telah diberikan sang ilahi kepada kita semua....oleh karenanya sang maha pencipta membuat suatu perturan yang ketat untuk menjaga hubungan manusia dengan alam, alam dengan manusia dan manusia dengan manusia. "Allah tidak menciptkan ciptaan-Nya dengan sia-sia..."untuk terjalinnya harmonisasi kehidupan.....dengan adanya aturan demikian sang ilahi memberlakukan hukum kausalitas (sebab akibat),..ketika seseorang berbuat konyol pada alam maka alam pun akan memberikan hal serupa....ketika sungai yang airnya bening dan menyegarkan diperlakukan dengan tidak wajar (membuang sampah) maka sungai pun akan memberikan hal yang sama (kotor, bau dan juga banjir)...hargailah alam dan berikanlah haknya maka alam pun akan menghargai kita dan akan memberikan haknya kepada kita..demikianlah kausalitas. hubungan manusia apalgi yang terkadang selalu spontan dalam merspon tindakan dari luar dirinya.... hargailah mereka sebagai manusia seperti halnya kita menghargai dirikita sendiri....!!maka kita akan menjadi manusia yang sangat berharga..
terlepas dari itu semua keseimbangan mestilah tetap dijaga...kita hidup di dunia tidaklah dengan kebetulan apalagi alam yang luas ini semuanya merupakan hasil karya yang sangat luar biasa dan agung...diallah sang Illahi maha karya terindah, Allah swt...harmonisasi makhluk dengan Tuhannya sudah sedemikian rupa aturan yang disediakan oleh-Nya..intinya jalnkan kewajiban kita kemudian mohonlah hak hidup kita kepada-Nya (baca surat Al-fatihah...).
ketika hubungan dua arah (vertikal&horizontal) terjalin dengan balance maka hari-hari yang kita lalui akan sangat terasa berharga dan indah bukan di mata dan di hadapan kita...tapi di mata dan di hadapan semua orang telebih lagi di hadapan sang illahi....inililah bentuk penghargaan dan keindahan yang akan menjadi suatu kebahagiaan yang abdi....demikian wallu 'alam.......!!!!